
Pekalongan Jateng -TribunNews86.Id
Aktivis lingkungan asal Kabupaten Pekalongan, Handono Warih, menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada tahap evakuasi dan distribusi bantuan semata. Ia mendorong agar pemulihan dilakukan dengan pendekatan intelektual melalui pelibatan akademisi, ahli lingkungan, dan pakar data dalam proses asesmen hingga perencanaan pemulihan.
Seruan tersebut disampaikan Handono pada Senin (5/1/2026) Saaat menanggapi kondisi lahan pertanian di Aceh yang masih terdampak banjir besar lebih dari sebulan terakhir. Sejumlah unggahan di media sosial Threads menyebutkan, lahan persawahan di Gampong Buangan, Kecamatan Meurahdua, Kabupaten Pidie Jaya, serta di Gampong Cot Ara, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, masih tertutup material tanah akibat banjir dan longsor.
Kerusakan ini membuat aktivitas pertanian warga lumpuh. Lahan yang sebelumnya menjadi sumber ekonomi masyarakat kini belum dapat diolah kembali karena tertimbun lumpur dan material banjir.
Menurut Handono, situasi tersebut membutuhkan penanganan berbasis keahlian. Ia menilai percepatan pemulihan lahan pertanian harus melibatkan tenaga ahli lingkungan dan pertanian agar dampak ekonomi warga tidak berlarut-larut.
“Diakui atau tidak, kehadiran tenaga ahli lingkungan dan pertanian dibutuhkan untuk percepatan pemulihan lahan pertanian guna menyelamatkan ekonomi warga terdampak bencana,” ujarnya.
Sementara itu, laporan dari akun kopigayo.co menyebutkan banyak relawan mulai berdatangan ke wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah setelah jalur alternatif dibuka. Namun, distribusi bantuan dinilai belum merata. Sejumlah titik dilaporkan menerima bantuan berlebih, sementara desa terpencil masih kekurangan logistik dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak pengungsi.
Handono menilai kondisi ini menunjukkan perlunya keterlibatan ahli data dan akademisi untuk menyusun asesmen kebutuhan secara tepat sasaran. Ia menekankan, pemulihan pascabencana harus dirancang sistematis dan berkelanjutan.
Handono dikenal aktif dalam aksi kemanusiaan, termasuk saat ikut terlibat dalam penanganan banjir besar di Kabupaten Pekalongan pada 20 Januari 2025. Ia berharap pola penanganan bencana di Indonesia semakin modern dan berbasis keilmuan.
“Penanganan bencana tidak hanya sekadar pemberian bantuan fisik dan evakuasi, tapi percepatan pemulihan berbekal intelektual,” tegasnya.
(Fah/hts)
